Stadion Andi Mattalatta

Stadion Andi Mattalatta – (AMM) merupakan stadion yang bersejarah dan menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Makassar. Stadion ini menjadi saksi kejayaan klub Ayam Jantan dari Timur dalam menorehkan prestasi di ajang bergengsi, yaitu Liga Champion Asia era 2000-2001.

Sejarah Stadion Andi Mattalatta

Stadion Andi Mattalatta diresmikan pada 6 Juli 1957, berlokasi di Jalan Mappanyuki Nomor 17, Mario, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Stadion ini dulunya bernama Stadion Mattoanging, yang diambil dari dua suku kata dari bahasa Makassar yaitu mattoa (melihat) dan anging (angin).

Nama Mattoanging diberikan karena kebiasaan para awak perahu pinisi yang berlabuh di pantai sekitar tempat stadion berdiri. Para awak memastikan cuaca saat itu dalam keadaan baik dan siap untuk berlayar dengan menengok angin.

Peran Andi Mattalata dalam Pembangunan Stadion

Tokoh Andi Mattalata berperan dalam pembangunan stadion ini, sehingga namanya diabadikan menjadi nama stadion. Ia merupakan mantan Panglima Kodam XIV/Hasanuddin yang mengusulkan, agar lahan yang dikuasai pemerintah Hindia Belanda setelah kemerdekaan Republik Indonesia dijadikan gelanggang olahraga.

Pada tahun 1950-an lokasi tersebut banyak dikuasai berbagai pihak, mulai dari mantan KNIL (tentara Hindia Belanda), mantan pemberontak DI/TII Kahar Muzakkar, hingga organisasi Permesta sebelum akhirnya jatuh ke tangan pemerintah.

Sebagai penerapan sistem uitholling, yaitu sistem untuk menarik kembali para pemuda tanah air yang sebelumnya mengikuti pihak pengacau, Mattalatta pun membangun stadion ini dengan biaya yang ia keluarkan secara pribadi. Ia menginginkan para pemuda untuk tidak tergoda lagi dalam mengikuti gerombolan pengacau. Ia menginginkan pemuda menyalurkan energinya di bidang olahraga.

Hingga puncaknya, pada 27 September sampai 6 Oktober 1957, pergelaran PON IV Makassar bertempat di stadion ini. Meskipun berperan penting dalam pembangunan stadion, ia tidak menasbihkan diri sebagai pemilik stadion. Pengelolaan stadion pun diserahkan kepada pihak lain, karena pada 1959 ia melanjutkan pendidikan ke Seskoad.

Pada tanggal 10 Juli 2004, Andi Mattalatta pun melakukan penyerahan tanggung jawab Stadion AMM kepada Andi Pangerang Pettarani. Ia merupakan Ketua Harian Komite Olahraga Indonesia (KOI) Sulawesi.

Fungsi Stadion Andi Mattalatta

Stadion ini merupakan homebase klub kebanggaan Makassar, yaitu PSM Makassar. Stadion yang menjadi salah satu yang tertua di Indonesia ini juga seringkali dimanfaatkan masyarakat untuk sekedar jogging pagi di area stadion atau berjalan-jalan santai.

Fasilitas Stadion Andi Mattalatta

  1. Tribun penonton : 20.000
  2. Kolam renang
  3. Area parkir
  4. Kamar mandi
  5. Musala

Semenjak peresmiannya pada 1957, stadion yang menjadi Markas Ayam Jantan dari Timur ini belum pernah tersentuh renovasi besar-besaran. Melainkan hanya perbaikan fasilitas kecil-kecilan agar memenuhi standar, setidaknya layak untuk dijadikan tempat kompetisi yang diadakan di stadion.

Saat Nurdin Halid menjabat sebagai manager PSM Makassar, tidak hanya berbagai trofi yang berhasil diraih, namun juga fasilitas stadion juga ditambah. Seperti penerangan stadion yang ditambah, ruang wasit, ruang ganti pemain, dan toilet dibenahi tanpa mengubah struktur stadion.

Saat kompetisi AFC 2001 stadion ini juga menjadi tuan rumah, dan PSM Makassar berhasil masuk perempat final bersama Jubilo Iwata (Jepang), Shandong Luneng (Tiongkok) dan Suwon (Korea Selatan).

Data Stadion Andi Mattalatta

Stadion AMM pernah menjadi venue kompetisi sepak bola bergengsi di tingkat Asia, yaitu AFC.

  1. Menjadi tempat diadakannya PON IV Makassar 1957.
  2. Menjadi tuan rumah kualifikasi Liga Champions Asia tahun 2001.
  3. Tempat berlangsungnya laga bersejarah PSM Makassar vs Royal Thai Air Force (klub asal Thailand) dalam AFC 2001,dengan skor telak 6-1 atas kemenangan PSM Makassar.

Waktu itu stadion hendak direnovasi pada awal 2020, sehingga pasukan Ayam Jantan dari Timur pun terpaksa menggunakan Stadion Pakansari dan Stadion Madya sebagai markas. Terlebih untuk kompetisi bergengsi AFC 2020.

Harga Tiket Stadion

Harga tiket masuk untuk menyaksikan laga PSM Makassar bervariasi dan dapat berubah-ubah tergantung dari jenis pertandingan.

  1. VIP utama : Rp 200.000.
  2. VIP utara : Rp 150.000.
  3. VIP selatan : Rp 150.000.
  4. Tribun  terbuka utara : Rp 35.000.
  5. Tribun terbuka selatan : Rp 30.000.

Renovasi Lanjutan Stadion

Saat menjelang musim Liga 1 2019 lalu, stadion ini mendapat perhatian khusus dari Manajemen PSM Makassar. Fasilitas stadion pun diperbaiki, renovasi dimulai pada Mei 2019 dan memfokuskan pada pembenahan kondisi bench. Renovasi memang dilakukan tidak secara menyeluruh, sehingga hanya sebagian saja. Misalnya pada alat kelengkapan bench yang akan ditambah.

Renovasi kecil juga dilakukan Bosowa Grup yang mengambil alih kepemilikan saham PSM, hal tersebut dilakukan karena PT LIB (Liga Indonesia Baru) selaku operator Liga 1 memiliki aturan cukup ketat soal kelayakan fasilitas stadion.

Perbaikan Stadion AMM pun dilakukan, khususnya pada bagian penerangan lampu yang menurun kualitasnya semenjak era Nurdin Halid. Pertandingan di malam hari pun tidak bisa dilakukan dengan baik karena penerangan yang buruk.

Saat Stadion AMM belum dinyatakan layak untuk Liga 1, PSM Makassar terpaksa berpindah-pindah dalam menggelar laga kandang, misalnya ketika meminjam Stadion Gelora Bung Tomo di Surabaya. Keberadaan stadion utama bagi sebuah klub memang sangat penting, karena akan memberikan atmosfir yang berbeda saat bertanding.

Hal tersebut karena adanya dukungan dari supporter, terbukti PSM hampir saja masuk zona degradasi karena bermain tanpa dukungan supporter saat itu.

Terdapat fakta ironis soal pembenahan stadion ini, yaitu pada 3 Januari 1985, Yayasan Olahraga Sulawesi Selatan (YOSS) tidak memenuhi mandat KONI Sulsel untuk membenahi Stadion AMM. Hal tersebut karena pengelola tidak memiliki dana, padahal PSM Makassar diwajibkan membayar sewa setiap musim untuk pemakaian stadion.

Stadion AMM pun terlihat renta karena renovasi yang dilakukan manajemen PSM saat itu hanya menyentuh sedikit fasilitas stadion, tidak secara keseluruhan. Dalam level kompetisi internasional pun, stadion ini tidak memenuhi standar, karena atap stadion dan bangunan yang sudah tua menurun kualitasnya.

Sempat Terjadi Sengketa

Dari kalangan supporter, desakan untuk melakukan renovasi besar-besaran Stadion Andi Mattalatta pun gencar dilakukan. Hal tersebut ditambah kondisi Stadion Barombong yang ditunda, karena permintaan audit dari gubernur baru Sulawesi Selatan pada 2018, Nurdin Abdullah.

Renovasi total pun dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan anggaran Rp 200 miliar dan renovasi pun masih berlanjut. Renovasi besar-besaran tersebut disetujui DPRD Sulsel. Rencana renovasi ini sempat mendapat perlawanan dari YOSS selaku pengelola, perlawanan fisik tidak bisa dihindarkan selain perlawanan lewat pengadilan.

Bentrokan sempat terjadi antara pendukung YOSS dan Satpol PP, hingga akhirnya terjadi negosisasi yang alot. Negosisasi dilakukan melibatkan KPK, DPRD Sulsel, dan pihak YOSS. Pada akhirnya, keputusan akhir menyatakan bahwa Stadion AMM jatuh ke tangan Pemprov Sulsel.

Renovasi pun terhambat oleh sebuah pandemi yang mewabah di Tanah Air, hingga Pemprov Sulsel pun lebih memfokuskan pada pencegahan pandemi Covid-19.

Kesimpulan

Stadion Andi Mattalatta memang tidak bisa dipisahkan dari PSM Makassar, mengingat banyaknya momen tak terlupakan di stadion tertua di Sulawesi Selatan ini. Dengan adanya renovasi besar-besaran oleh Pemprov Sulsel, diharapkan kualitas stadion ini menjadi lebih baik, dan semakin dibanggakan masyarakat Makassar.

Leave a Comment